Washington (AFP/ANTARA) - Seorang anggota parlemen
terkemuka Amerika Serikat dari partai Republik, pada Minggu menuduh Hugo
Chavez memperkuat cengkeramannya dalam kekuasaan dengan manipulasi dan
penyiksaan setelah pemimpin Venezuela tersebut terpilih kembali untuk
masa jabatan enam tahun.
“Sangat disayangkan bahwa Chavez mempertahankan cengkeramannya dalam kekuasaan di Venezuela,” kata sebuah pernyataan dari Ileana Ros-Lehtinen, ketua komite Dewan Perwakilan urusan luar negeri yang berpengaruh.
“Chavez menolak akses pemantauan pemilu internasional, memanfaatkan perubahan pemungutan suara pada menit terakhir, mengontrol sistem peradilan, mengancam jurnalis independen, dan melakukan konsolidasi kekuasaannya untuk memanipulasi suara untuknya,” katanya.
Dibimbing oleh Fidel Castro Kuba, Chavez mengungguli suara sayap kiri Amerika Latin, melawan “kekaisaran” Amerika Serikat dan berteman dengan Iran dan Suriah.
Dia dipilih kembali untuk masa jabatannya selama enam tahun, pada Minggu, setelah bersaing ketat dengan pemimpin oposisi muda, Henrique Capriles, yang mengakui kemenangan tersebut dengan mengatakan: “Saya menerima dan menghormati keputusan rakyat.”
Seorang tokoh yang sangat disorot yang selamat dalam sebuah kudeta pada 2002 dan menjadi terkenal yang menggunakan kekayaan minyak yang besar di negara itu untuk mendanai program-program kesehatan dan pendidikan bagi rakyat miskin, Chavez kini dituduh melakukan tindak korupsi dan nepotisme.
“Chavez tidak boleh terus membawa kebencian dan kesewenang-wenangannya ke luar negeri seperti sesama rekan diktatornya di Iran dan Kuba dengan melakukan penindasan terhadap pers dan melakukan pelanggaran HAM,” kata Ros-Lehtinen.
“Amerika Serikat dan negara-negara yang bertanggung jawab harus tetap setia dalam pertahanan demokrasi dan kebebasan kita dan tidak tunduk pada tirani Chavez.”
Chavez, yang merupakan politikus dari sayap kiri, telah merangkul banyak musuh Amerika selama bertahun-tahun, termasuk Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, mendiang pemimpin Libya, Moamer Kadhafi dan Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
Dia dikenal pernah menyebut mantan presiden George W. Bush sebagai “setan.”
Sebelumnya dia dekat dengan Presiden Barack Obama, namun ia berubah menentang dan mulai menggambarkan Amerika Serikat sebagai kekuatan imperialis jahat.
Belum ada reaksi langsung terkait terpilihnya kembali Chavez dari pemerintahan Obama.


0 komentar:
Posting Komentar